tujuan

Blog ini kami buat dengan tujuan untuk mamberikan Informasi kepada seluruh warga BK yang ada di Indonesia.Dengan begitu ada pertukaran Informasi agar wawasan kita semakin meningkat,,

Rabu, 11 April 2012

LAPORAN HASIL OBSERVASI

LAPORAN HASIL WAWANCARA GURU BK SMAN 14 SURABAYA



PEDOMAN WAWANCARA

1.      Wawancara ke             : Guru Bimbingan dan Konseling
2.      Waktu wawancara      : 24 Februari 2012 pukul 09.00 WIB
3.      Tempat wawancara     : Ruang BK SMAN 14 Surabaya
4.      Masalah                       : Masalah pribadi dan sosial yang dihadapi oleh siswa
5.      Nama guru                  :- Ibu Kurniati
                                      -Ibu Purwaningsih
6.      Proses wawancara       : -

No
Pertanyaan
Daftar jawaban
1
Masalah apa yang sering dihadapi siswa?
1.    Sering membolos
2.    Merokok di lingkungan sekolah
3.    Tidak percaya diri
4.    Sering telat ke sekolah
5.    Sulit menentukan pilihan

2
Apa dampak atau akibat paling parah ketika siswa mengalami masalah itu?
Di skorsing dan jika hukuman belum dapat membuat jera peserta didik,kebijakan selanjutnya adalah mengembalikan peserta didik kepada orang tuanya.

3
Masalah sosial apa yang paling banyak dialami siswa?
1.    Kurang mampu atau tidak mau bersosialisasi
2.    Cuek dengan teman
3.    Murung karena patah hati/putus cinta
4.    Tidak siap menghadapi ujian
4
Apa dampak atau akibat paling parah ketika siswa mengalami masalah sosial?
1.    Tidak punya teman
2.    Tidak betah berada di lingkungan keluarga
3.    Nilai mata pelajaran turun drastis.
5
Faktor apa saja yang diduga menyebabkan masalah pribadi atau sosial tersebut?
·      Dari diri sendiri :
1.      Merasa tidak puas dengan keadaan diri ( secara fisik,ekonomi dll)
2.      Kebiasaan/ managemen waktu yang kurang baik
·      Dari lingkungan:
1.        Broken home, tidak tinggal bersama orang tua atau hanya tinggal dengan salah satu orang tua.
2.        Orang tua tidak memiliki penghasilan yang cukup,sehingga tidak bisa memenuhi apa yang diinginkan anak.
3.        Orang tua di PHK , anak tidak siap dengan pola hidup yang berubah .
4.        Takut dengan orang  disekitar( guru, orang tua maupun teman)

6
Bagaimanakah upaya preventif untuk mencegah terjadinya masalah pribadi atau sosial tersebut?
-          Diawal semester: sosiometri(untuk menentukan tempat duduk peserta didik)
-          Setiap siswa diwajibkan untuk selalu datang ke ruang BK,walaupun tidak ada masalah dan hanya sekedar membicarakan kegiatan yang telah dilakukannya.
-          membekali mereka dengan informasi tentang agama untuk membentengi mereka dari masalah-masalah itu
7
Bagaimanakah upaya kuratif untuk mengatasi masalah pribadi atau sosial tersebut?
-          mengajak mereka berdiskusi dan membuat kesepakatan agar mereka tidak mengulangi kesalahan mereka lagi.
-          Memanggil orang tua untuk membicarakan permasalahan yang dihadapi anaknya.

8
Bagaimanakah upaya pengembangan jika anak itu sudah sembuh dari masalah pribadi atau sosial tersebut?
1.      tetap memantau mereka dan kadang kala mengajak mereka mengobrol dan menanyakan janji mereka yang telah siswa dan konselor lakukan dulunya serta menanyakan manfaat yang dapat diperoleh setelah melakukan


Kesimpulan:
Dari data diatas masalah pribadi yang sering dialami di siswa yaitu membolos, hal ini dilatarbelakangi oleh banyak faktor diantaranya kurangnya perhatian dari orang-orang disekitarnya. Sedangkan untuk masalah sosial yang sering dialami adalah kurang mampunya mereka untuk bersosialisasi dengan teman ataupun dengan sengaja tidak mau mencari teman. Masalah pribadi maupun sosial ini akan berdampak pada hasil prestasi siswa di sekolah. Disini guru BK berperan untuk membantu siswa dalam mencegah munculnya masalah, ikut berperan dalam upaya pengentasan masalah maupun untuk mengembangkan prilaku siswa kea rah yang lebih baik.






GAMBARAN BK DI SMAN 14 SURABAYA


            Wawancara kami lakukan di SMAN 14 Surabaya pada 24 Februari 2012 pukul 09.00 WIB. Kami disambut oleh Guru BK dengan ramah, mereka sangat terbuka dalam menjawab pertanyaan yang kami ajukan. Di SMAN 14 Surabaya terdapat lima guru BK yang semuanya adalah wanita. Setiap guru BK di sana bertanggung jawab terhadap 150 siswa. Di sana BK tidak ada jam untuk masuk kelas, manyikapi hal ini guru BK mencari solusi lain dengan cara mengatur jadwal siswa secara rutin untuk datang ke ruang BK walaupun hanya sekedar curhat, bertanya ataupun bercerita tentang belajarnya . Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memparbaiki”image” ruang BK yang dulunya dianggap sebagai tempat untuk “menghakimi” anak yang bermasalah. Bimbingan dan konseling di sini menerapkan buku point yang digunakan sebagai sarana mencatat semua kegiatan siswa disekolah,baik yang positif( disiplin, rajin,adanya peningkatan belajar) maupun yang negative (pelanggaran). Buku point ini digunakan guru BK  untuk membantu bagian tata tertib dengan memberikan point minus pada mereka yang telat, disini guru BK tidak bertugas memberi hukuman atau menjadi “polisi sekolah” melainkan hanya memantau siswa yang sering telat karena mereka sadar akan peran dan tugas mereka. Seandainya ada masalah diluar wewenangnya maka guru BK menyerahkan masalah itu kepada yang bertugas menangani masalah itu agar tidak terjadi salah persepsi pada diri siswa mengenai tugas dan wewenang guru BK.
            Guru BK di SMAN 14 Surabaya sangat memperhatikan anak didiknya, hal ini terlihat dari keaktifan guru BK menghubungi siswa sendiri maupun keluarga dekatnya ketika siswa tidak hadir di sekolah. Ini dilakukan sebagai upaya untuk terus memantau keadaan peserta didik dan mendiagnosis dari awal jika siswa memiliki permasalahan.
            Layanan bimbingan dan konseling di sekolah ini hanya terbatas pada jam aktif pelajaran yakni dari pukul 06.30-15.00 WIB. Siswa yang ingin mendapatkan layanan bimbingan ataupun konseling di luar jam sekolah tidak akan dilayani oleh konselor. Konselor tidak bermaksud untuk menolak konseli tetapi hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan BK digunakan sebagai alasan siswa untuk melakukan kegiatan lain diluar sepengetahuan orang tua.



Salah Satu Kasus yang Terjadi di SMAN 14 Surabaya

” anak sering membolos”
            Anak meminta sepeda motor untuk digunakan ke sekolah,tetapi karena ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan maka orang tua menolak permintaan anaknya tersebut. Hal ini menyebabkan anak menjadi malas pergi ke sekolah.
Anak pamit ke orang tua berangkat ke sekolah tetapi sebenarnya ia nongkrong di warung sehingga orang tua tidak mengetahui hal ini. hal ini sebenarnya dilakukan anak sebagai upaya protes terhadap orang tua mereka yang tidak memenuhi keinginannya.
·         Penyebab :
anak merasa rendah diri dengan teman-temannya karena dia masih menggunakan sepeda pancal ke sekolah.Kebanyakan temannya menggunakan sepeda motor untuk ke sekolah,hal ini menyebabkan dirinya merasa tidak sepadan dan minder ketika harus bergaul dengan mereka. Anak  mencari teman lain diluar sekolah yang dianggap “sama” dengannya.
·         Dampak :
Anak sering tidak masuk sekolah sehingga menyebabkan kegiatan belajar peserta didik menjadi terganggu dan nilainya menjadi turun
·         Penanganan:
1.      Mengetahui hal ini guru BK langsung menghubungi orang tua siswa untuk mengetahui alasan siswa tidak hadir ke sekolah. Namun orang tua siswa mengatakan bahwa anaknya pamit untuk berangkat kesekolah.. Hal ini tidak sesuai dengan fakta yang ada dilapangan bahwa anak telah beberapa kali membolos dengan alasan yang tidak jelas.
2.      Berhubung anak tersebut tidak kunjung masuk sekolah setelah beberapa kali diberi peringatan maka guru BK memutuskan untuk memanggil orang tuanya ke sekolah. Guru BK menggali informasi dari wali murid berkenaan dengan hal ini yang pada akhirnya dapat ditemukan inti dari permasalahan ini adalah keinginan siswa yang tidak terpenuhi untuk memiliki sepeda motor.
3.      Selanjutnya guru BK memanggil siswa itu  untuk membahas masalahnya dan menanyakan hal apa yang melatarbelakangi tindakannya tersebut. Disini guru BK memberikan pemahaman tentang dampak dari tindakannya tersebut . Menyadarkan siswa bahwa materi tidak dapat menjamin keberhasilan hidup seseorang, justru dengan kekurangan yang dialaminya dapat digunakan sebagai motivasi untuk mencapai prestasi yang dapat menunjang kesejahteraan keluarganya dimasa yang akan datang.
4.      Setelah siswa menyadari bahwa persepsinya bahwa dengan memiliki sepeda motor prestasi belajar akan meningkat itu tidak sepenuhnya benar, guru BK terus memberikan dukungan dan tak lupa selalu memantaunya melalui kunjungan rutin siswa ke BK maupun informasi  dari teman dekatnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar